Awalnya saya pesimis ketika vendor sebesar Nokia tidak mau mengikuti trend pasar Operating System. Nokia sempat berkoar hanya akan menggunakan Symbian sebagai operating system andalan. Biaya besar pun kemudian dikucurkan untuk membangun ekosistem Symbian yang mulai banyak ditinggalkan seiring dengan perkembangan smartphone dewasa ini. Dimulai dengan IOS kemudian menyusul Android yang berkembang dengan teramat pesat, membuat Symbian tenggelam dan ditinggalkan. Pasar smartphone yang berkembang pesat, juga membuat sang raksasa piranti lunak “Microsoft” bermain dipangsa pasar ini. Namun, dominasi IOS dan Android seakan tidak bisa terpatahkan. Yang membuat OS Windows Phone menjadi kurang greget dipasaran. Ekosistem dan dukungan dari App Store dan Android Market yang sangat baik, membuat Symbian dan Windows Phone seakan tenggelam kembali dalam persaingan dijagat OS.
Tak ingin tergerus dengan persaingan yang kian bergeliat, akhirnya Nokia pun patah arang dengan Symbian dan mulai melirik OS lain. Terlambat memang, namun hal ini adalah langkah terbaik untuk menyelamatkan pangsa pasar Nokia. Nokia boleh berjaya dengan market low-end phone mereka, namun tidak dengan high-end smartphone. Keputusan untuk beralih ke OS lain pun diambil oleh Nokia yang memilih Microsoft sebagai partner mereka. Sebuah langkah besar yang diambil untuk menyelamatkan generasi smartphone mereka.
Kini setelah beberapa bulan/tahun Nokia berkutat untuk men-develop smartphone bercitarasa Manggo (Windows Phone), Nokia pun merilis Lumia series ke pasaran. Sepengetahuan saya, pasar menyambut baik Lumia dengan baik. Terbukti dengan pre-order Nokia dan lauching yang laris manis. Well, Nokia saat ini telah membuktikan sedikit langkah mereka. Setidaknya mereka bertahan dan dapat survive dan tidak bergantung dengan Symbian yang memang kurang fleksible untuk smartphone.
So, Kita lihat lagi Blackberry..
Ditengah persaingan pasar yang sangat ketat ini, Blackberry seakan terlambat untuk mengambil langkah menyelamatkan pasarnya. Terbukti saat ini penjualan handheld disejumlah negara sudah tergerus. Banyak user yang tidak puas dengan layanan dari RIM berusaha untuk pindah ke ekosistem yang lebih baik. Tidak adanya inovasi dari perangkat yang di buat RIM menjadikan pangsa pasarnya terus menyusut oleh kehadiran Android yang memang fleksible dengan banyak vendor ponsel. Terlebih perangkat tablet yang dibuat terlalu ribet dalam penggunaannya. Tidak ada fitur native email, hanya dapat diakses dengan wifi /tether dari perangkat Blackberry membuat user lebih melirik OS robot hijau atau iPad. Sampai-sampai RIM harus mencopot dua CEO nya sekaligus yang dianggap tidak bisa mendongkrak popularitas Blackberry.
Development OS yang terlalu lama juga membuat Blackberry kelabakan. Update yang dirasa terlalu lama hadir sudah dikeluhkan para user Blackberry. Belum lagi rilis OS baru Blackberry yang ditunda-tunda. Dan juga tumbangnya akses data Blackberry disejumlah negara juga mewarnai berita tantang Blackberry. Entahlah.. RIM sepertinya cukup kerepotan mengatasi masalah ini satu persatu. Akankah rumor Blackberry yang juga ingin menjual license OS nya (sama seperti yang dilakukan Google dengan menjual OS Android) ke vendor-vendor menjadikannya bangkit. Kita akan lihat dalam beberapa bulan kedepan.
Apapun yang terjadi, saya hanyalah pengamat..
Pecinta OS Robot Hijau, namun tidak mendeskritkan OS lainya..
Happy gadget riding guys!
















